
EMOTINALLY CONNECTED DALAM DAKWAH
Maya Angelou pernah berkata, _“People will forget what you said, people will forget what you did, but people will never forget how you made them feel.”_
Maya Angelou pernah berkata, _“People will forget what you said, people will forget what you did, but people will never forget how you made them feel.”_
Kalimat ini sederhana, tetapi mengandung hikmah mendalam tentang relasi antar-manusia. Dalam konteks bisnis, ia sering dipahami sebagai kunci loyalitas pelanggan. Namun dalam konteks dakwah, kalimat ini mengguncang lebih jauh: *bahwa dakwah bukan hanya menyampaikan kebenaran, tetapi menanamkan rasa yang membuat orang mencintai kebenaran itu*
*1. Dakwah Bukan Sekadar Kata, Tapi juga Rasa*
Rasulullah صلى الله عليه وسلم tidak sekadar berdakwah dengan argumentasi rasional; beliau menghadirkan kehangatan yang membuat *orang merasa* diterima, dihormati, dan disayangi. Sirah mencatat betapa kata-kata beliau selalu diiringi kelembutan hati. Saat beliau menegur, tidak membuat orang terhina; ketika menasihati, orang justru merasa dimuliakan.
Dalam Ar-Rahiq al-Makhtum, ketika Rasulullah menolak lamaran kaum Quraisy yang menawarkan jabatan dan harta agar beliau berhenti berdakwah, beliau menjawab dengan suara bergetar:
*“Demi Allah, seandainya mereka meletakkan matahari di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku agar aku meninggalkan dakwah ini, aku tidak akan meninggalkannya sampai Allah memenangkan agama ini atau aku binasa karenanya.”*
Kata-kata itu bukan hanya logika tauhid, melainkan *luapan cinta.* Orang Quraisy yang mendengarnya pun tidak bisa membencinya sepenuh hati; mereka *melihat ketulusan, bukan ambisi.* Begitulah kekuatan rasa dalam dakwah—ia menembus *tembok kebencian yang tak sanggup ditembus argumen*
*2. Kelembutan yang Menghidupkan Jiwa*
Lihat pula kisah sahabat muda Usamah bin Zaid. Ketika ia membunuh seorang musuh yang sudah mengucap lā ilāha illā Allāh karena mengira ucapannya hanya untuk menyelamatkan diri, *Rasulullah menegurnya dengan air mata:*
“Apakah engkau *sudah membelah hatinya*, wahai Usamah?”
Usamah menyesal seumur hidup. Bukan karena ancaman hukuman, tapi karena ia merasakan *luka di hati Nabi* Dari teguran itu, Usamah belajar bahwa misi dakwah bukan menaklukkan manusia, melainkan menyelamatkan mereka.
Khalid Muhammad Khalid dalam Biografi 60 Sahabat Nabi menggambarkan suasana itu dengan gaya sastra yang mengaduk emosi pembaca—menegaskan bahwa kepribadian Rasulullah menembus *bukan hanya pikiran, tapi perasaan manusia.*
*3. Empati Sebagai Strategi Dakwah*
Angelou mengatakan bahwa orang akan lupa apa yang kita katakan, *tetapi tidak akan lupa pada bagaimana kita* membuat mereka merasa. Prinsip ini identik dengan strategi Rasulullah dalam menyentuh hati.
Saat Fathu Makkah—ketika beliau memiliki kekuasaan penuh untuk membalas—Rasulullah bertanya kepada orang Quraisy yang dulu mengusir dan memeranginya:
“Wahai kaum Quraisy, menurut kalian apa yang akan aku lakukan terhadap kalian?”
Mereka menjawab, “Engkau adalah saudara yang mulia, anak saudara yang mulia.”
Beliau berkata, *“Pergilah, kalian bebas.”*
Kalimat itu menghapus dendam berpuluh tahun. Sejarah politik belum mengenal pemenang perang yang mengampuni seagung itu. Inilah *emotional connection* paling dalam dalam sejarah manusia. Rasulullah *memenangkan hati lebih dahulu* sebelum memenangkan wilayah.
*4. Menanam Cinta, Bukan Sekadar Menyampaikan Hukum*
Dalam banyak majelis dakwah modern, kita *sering terjebak dalam pola* “ceramah informatif”—penuh data, dalil, dan argumentasi—*namun miskin pengalaman emosional*. Padahal dakwah yang hanya *menyentuh akal* sering berumur pendek. *Yang menyentuh hati*, bertahan seumur hidup.
Sahabat Bilal bin Rabah merasakan itu. Ketika kulitnya disiksa di padang pasir karena mengucap Ahad! Ahad!, ia tidak sedang berdebat teologis; ia sedang mempertahankan rasa cinta yang terlalu dalam kepada Allah dan Rasul-Nya. Cinta itu lahir bukan dari teori, tetapi dari bagaimana *Rasulullah memperlakukannya sebagai manusia merdeka, bukan budak*
Begitulah efek perilaku *kindness and respect*: yang mungkin minim dng kata kata. tapi perlakuan itu mampu mengubah status sosial seseorang menjadi *martabat spiritual*.
*5. Dakwah Sebagai Pengalaman Emosional*
Dalam konteks organisasi dakwah hari ini, pelajaran dari sirah dan kutipan Angelou bisa diterjemahkan menjadi prinsip experience-based da’wah. Artinya, kita tidak hanya merancang pesan, tapi *merancang pengalaman emosional* bagi mad’u.
Ketika seseorang hadir di cirlce (halaqah), bukan hanya *pikirannya yang perlu tercerahkan*, tetapi *hatinya perlu disentuh*. Ia *harus merasakan mendapatkan* treatment dihargai, didengarkan, dan diterima apa adanya. Itulah yang membuat orang bertahan dalam jamaah dakwah—bukan semata struktur, tapi *kehangatan ukhuwah* yang membuatnya “pulang” setiap kali datang.
Para sahabat belajar langsung dari pengalaman itu. Umar bin Khaththab, yang awalnya datang dengan pedang untuk membunuh Nabi, justru luluh ketika mendengar lantunan Surah Thaha di rumah adiknya. Ayat-ayat itu bukan hanya kebenaran logis, tetapi gema rasa dan resonansi yang *menenangkan batin seorang pencari kebenaran.*
*6. Kebaikan yang Menular*
Kebaikan bukan hanya tindakan individual; ia *menciptakan gelombang emosional*, beresonansi. Rasulullah menanamkan prinsip ini dalam setiap interaksi. Ketika seorang wanita tua Yahudi selalu menaburkan debu di kepala beliau setiap kali lewat, dan suatu hari wanita itu tak lagi tampak, Rasulullah *mendatanginya—ternyata ia sakit*. Perhatian beliau membuat wanita itu menangis dan akhirnya masuk Islam.
Inilah contoh klasik *kindness is memorable*: seseorang tidak akan ingat khutbah yang ia dengar, tapi akan mengingat *bagaimana seorang dai, murabbi memperlakukannya* dengan mahabbah.
*7. Implementasi di Era Modern*
Dalam dunia dakwah digital hari ini, kutipan Angelou menjadi pedoman komunikasi yang amat relevan. Setiap post, caption, atau video dakwah adalah interaksi emosional. Orang mungkin lupa isi ceramah dua menit, tapi ia akan ingat nada suara yang menenangkan, ekspresi yang tulus, atau komentar yang menghargai perbedaan.
Karena itu, *para digital du'at* perlu memadukan strategi konten dan empati. Bukan sekadar *riding the algorithm*, tapi *touching the algorithm of the heart*. Algoritma platform berubah, tapi *algoritma hati manusia tetap sama*: ia merespons dan beresonansi pada hadirnya mahabbah, bukan kemarahan, apalagi kebencian.
*8. Rasa Sebagai Jalan Menuju Surga*
Dalam buku Yang Merangkak ke Surga, dikisahkan sahabat yang terjatuh dalam dosa namun tak pernah berhenti berharap pada rahmat Allah. Ia datang kepada Nabi dengan wajah penuh penyesalan, dan Rasulullah *menyambutnya dengan mahabbah*, bukan penghakiman. Sikap itu membuat sahabat itu *bangkit lagi, merangkak menuju ampunan*
*Khatimah: Meninggalkan footprint di Hati*
Kutipan Maya Angelou seakan menemukan bentuk sempurnanya dalam pribadi Rasulullah صلى الله عليه وسلم. Beliau meninggalkan jejak yang tak hanya diingat, tetapi dirasakan. Para sahabat bisa lupa detail khutbah beliau, namun tak pernah lupa *bagaimana rasanya duduk di hadapan beliau*— hadir dan tenggelam dalam ketentraman, kedamaian, ada rasa dicintai, dan dimuliakan. Sebab, pada akhirnya, dakwah adalah seni membuat orang dapat merasakan mahabbatullah, hadirnya rasa kecintaan sekaligus kasih sayang Allah SWT pada setiap insan.[]Amu
Alfin Agustiar Pratama
Alumni Angkatan 2006
Komentar (0)
Silakan login terlebih dahulu untuk menulis komentar.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

