Tilawah: Jalan Sunyi yang Menghidupkan Kembali Hati

Tilawah: Jalan Sunyi yang Menghidupkan Kembali Hati

Tilawah Al-Qur'an adalah jalan pulang bagi hati yang lelah dan jauh dari Allah. Saat seseorang membaca, ayat demi ayat membasuh jiwa -kadang menegur, kadang memeluk, kadang membuka mata. Tilawah bukan sekadar ibadah, tetapi percakapan rahasia antara hamba dan Tuhannya yang perlahan melembutkan hati, menenangkan rumah, dan menghadirkan keberkahan. Semakin sering dibaca, semakin tumbuh rindu untuk kembali membukanya. Al-Qur'an menjadi cahaya penuntun, sahabat di dunia, dan syafaat di akhirat, menghidupkan hati yang ingin kembali pulang kepada Allah.

Alfin Agustiar Pratama
sekitar 1 bulan yang lalu
22 views
0 comments
Tags:

 ADA satu momen dalam hidup seorang muslim ketika ia menyadari bahwa hatinya begitu mudah lelah.

Bukan karena pekerjaan.

Bukan karena manusia.

Tapi karena terlalu lama ia jauh dari firman Allah.

Tilawah Al-Qur’an adalah jalan pulang yang paling sunyi namun paling terang.

Saat seseorang membuka mushaf dan mulai membaca, ada sesuatu yang halus turun ke dalam dadanya. 

Sebuah rasa tenang yang tidak bisa dijelaskan, seolah Allah sendiri sedang menenangkan gelisahnya.

Ayat demi ayat berjalan seperti aliran air yang membasuh hati yang retak.

Kadang ayat itu menegur, membuat kita menunduk malu.

Kadang ayat itu memeluk, membuat kita merasa dicintai.

Kadang ayat itu membuka mata, membuat kita mengerti sesuatu yang dulu tidak pernah terpikirkan.

Tilawah bukan hanya ibadah. Ia adalah percakapan rahasia antara hamba dan Tuhannya.

Tak perlu risau dengan mengerti atau tidak mengerti apa yang dibaca.

Tak perlu peduli apakah lancar atau terbata-bata melafalkan tajwid dan makhroj-nya.

Yang penting baca sebanyak-banyaknya seperti yang diperintahkan Sang Nabi saw dan yang dilakukan para sahabat dan ulama.

Sebab di saat seseorang membaca, ia sebenarnya sedang dididik Allah. Makin banyak ia baca, makin tertanam didikan Allah.

Didikan tanpa suara keras, tanpa paksaan, hanya melalui rangkaian kata yang menghidupkan jiwa. 

Hati perlahan menjadi lebih lembut, pikiran lebih jernih, langkah lebih terarah. Tanpa ia sadari, dosa yang dulu terasa ringan mulai terasa berat. 

Maksiat yang dulu tampak biasa mulai memalukan. Itulah efek ayat-ayat Allah yang meresap ke dalam diri.

Rumah yang sebelumnya penuh kegelisahan berubah lebih teduh hanya karena tilawah dilakukan di dalamnya. 

Seperti ada cahaya yang tidak terlihat mata, tetapi terasa oleh hati yang hadir. Keberkahan masuk perlahan, membawa ketenangan pada rezeki, waktu, bahkan hubungan keluarga. 

Itulah keberkahan yang datang bersama firman Allah.

Bagi orang yang sedang jatuh, tilawah Al-Qur’an adalah tempat pulang.

Saat dunia terasa bising, ayat-ayat Allah mengajarkan bagaimana diam.

Saat hati terasa hampa, Al-Qur’an mengisi kekosongan itu dengan makna.

Saat seseorang merasa sendirian, tilawah mengingatkan bahwa Allah selalu dekat.

Yang paling indah dari tilawah adalah bagaimana ia menumbuhkan rindu.

Semakin sering seseorang membaca Al-Qur’an, semakin hatinya ingin kembali.

Ada magnet lembut yang menariknya menuju mushaf.

Ada kerinduan yang tumbuh pelan-pelan, membuatnya ingin membuka lagi halaman berikutnya.

Dan di balik semua itu, ada janji Allah, bahwa Al-Qur’an akan menjadi sahabat setia di dunia dan pembela di akhirat.

Karena setiap huruf yang dibaca, setiap detik yang diluangkan, tidak ada satu pun yang sia-sia di sisi Allah.

"Bacalah Al-Qur’an, karena dia akan datang pada hari kiamat sebagai syafaat bagi sahabat-sahabatnya." (HR. Muslim no. 804)

Tilawah Al-Qur’an pada akhirnya bukan tentang banyaknya halaman yang ditamatkan.

Ia tentang hati yang perlahan hidup kembali.

Tentang jiwa yang mulai mengenal Tuhannya.

Tentang perjalanan panjang seorang hamba yang ingin pulang.

Dan Al-Qur’an menjadi cahaya yang menuntunnya.

Dan kelak, ketika seseorang hamba berkata, “Kini hidupku tenang,” biasanya semua itu bermula dari hari ketika ia memutuskan untuk kembali membuka mushafnya. Al Qur'an Dusturuna[]Sat

Madrasatuna

Waktu baca: ~3 menit22 kali dibaca
Alfin Agustiar Pratama

Alfin Agustiar Pratama

Alumni Angkatan 2006

Komentar (0)

Silakan login terlebih dahulu untuk menulis komentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Tag Artikel

KEDUDUKAN MULIA PARA SHIDDIQIN: Jalan Para Nabi dan Orang-Orang Terpilih

Derajat shiddiqin merupakan tingkatan spiritual tertinggi setelah kenabian, yaitu golongan orang-orang yang benar, jujur, dan teguh dalam keimanan. Mereka mengikuti para nabi tanpa keraguan, membuktikan iman melalui pengorbanan dan komitmen yang nyata, sebagaimana diteladankan para sahabat Rasulullah SAW. Ayat-ayat Al-Qur'an menjelaskan bahwa orang-orang yang mencapai derajat ini akan dikumpulkan bersama para nabi dan menjadi teman mulia di surga. Pencapaian tingkat ini menuntut kesungguhan dalam menjaga janji kepada Allah hingga ajal tiba. Karena itu, seorang mukmin didorong untuk meniti jalan para shiddiqin dengan memperkuat ikatan hati, ketaatan, dan keikhlasan dalam beramal.

EMOTINALLY CONNECTED DALAM DAKWAH

Maya Angelou pernah berkata, _“People will forget what you said, people will forget what you did, but people will never forget how you made them feel.”_

Langit

Klik untuk membaca artikel lengkap

Aku anak baik

Klik untuk membaca artikel lengkap