KEDUDUKAN MULIA PARA SHIDDIQIN: Jalan Para Nabi dan Orang-Orang  Terpilih

KEDUDUKAN MULIA PARA SHIDDIQIN: Jalan Para Nabi dan Orang-Orang Terpilih

Derajat shiddiqin merupakan tingkatan spiritual tertinggi setelah kenabian, yaitu golongan orang-orang yang benar, jujur, dan teguh dalam keimanan. Mereka mengikuti para nabi tanpa keraguan, membuktikan iman melalui pengorbanan dan komitmen yang nyata, sebagaimana diteladankan para sahabat Rasulullah SAW. Ayat-ayat Al-Qur'an menjelaskan bahwa orang-orang yang mencapai derajat ini akan dikumpulkan bersama para nabi dan menjadi teman mulia di surga. Pencapaian tingkat ini menuntut kesungguhan dalam menjaga janji kepada Allah hingga ajal tiba. Karena itu, seorang mukmin didorong untuk meniti jalan para shiddiqin dengan memperkuat ikatan hati, ketaatan, dan keikhlasan dalam beramal.

Alfin Agustiar Pratama
sekitar 1 bulan yang lalu
107 views
0 comments
Orang-orang yang benar dalam keimanannya merupakan satu dari empat golongan manusia yang diberikan petunjuk oleh Allah SWT untuk meniti jalan yang lurus. Inilah jalan yang selalu dimohon oleh para hamba saleh dalam setiap shalatnya. Jalan ini pula yang ditempuh oleh para nabi, shiddiqin, syuhada, dan shalihin, sebagaimana firman Allah SWT:
 وَمَنْ يُّطِعِ اللّٰهَ وَالرَّسُوْلَ فَاُولٰۤىِٕكَ مَعَ الَّذِيْنَ اَنْعَمَ اللّٰهُ عَلَيْهِمْ مِّنَ النَّبِيّٖنَ وَالصِّدِّيْقِيْنَ وَالشُّهَدَاۤءِ وَالصّٰلِحِيْنَ ۚ وَحَسُنَ اُولٰۤىِٕكَ رَفِيْقًا

“Siapa yang menaati Allah dan Rasul (Nabi Muhammad), mereka itulah orang-orang yang (akan dikumpulkan) bersama orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, (yaitu) para nabi, orang-orang yang benar, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.” (QS. An-Nisa: 69)
Allah menempatkan orang-orang yang benar (shiddiqin) setelah para nabi. Ini menunjukkan betapa tingginya kedudukan mereka di sisi Allah SWT. Para shiddiqin memiliki tingkatan spiritual tertinggi setelah kenabian.
Dari ayat ini dapat dipahami beberapa hal:
1. Derajat kenabian adalah yang tertinggi.
Para nabi dan rasul adalah manusia pilihan yang menerima wahyu untuk membimbing umat manusia. Kedudukan mereka unik dan berada pada tingkat tertinggi.
2. Setelah nabi adalah para shiddiqin, yaitu mereka yang sepenuhnya beriman, mengikuti para nabi tanpa keraguan, dan membuktikan kebenaran iman melalui ucapan, perbuatan, dan keteguhan hati.
3. Ini menunjukkan bahwa pencapaian tertinggi bagi manusia biasa (bukan nabi) adalah menjadi seorang yang shiddiq: benar, jujur, dan teguh dalam iman. Hal ini menjadi motivasi bagi umat untuk mencapai tingkat keimanan yang luar biasa.
4. Allah menjanjikan bahwa para shiddiqin akan menjadi teman mulia para nabi di surga.
Ini merupakan kehormatan dan balasan atas ketaatan serta keimanan yang kokoh.
5. Para shiddiqin ditempatkan setelah nabi karena kesempurnaan iman dan ketaatan mereka yang mencerminkan ajaran para utusan Allah secara paling murni.
6. Para sahabat radhiyallahu ‘anhum termasuk golongan shiddiqin.
Keimanan mereka terbukti dalam kehidupan nyata. Mereka membela Rasulullah SAW hingga mengorbankan harta, tenaga, darah, bahkan nyawa.
Sebagai contoh, Hamzah bin Abdul Muthalib—paman Nabi SAW—yang gugur dalam Perang Uhud. Kematian beliau meninggalkan duka mendalam bagi Rasulullah SAW, hingga beliau menangis melihat jasad pamannya. Tentang mereka, Allah menurunkan ayat:
 مِنَ الْمُؤْمِنِيْنَ رِجَالٌ صَدَقُوْا مَا عَاهَدُوا اللّٰهَ عَلَيْهِ ۚ فَمِنْهُمْ مَّنْ قَضٰى نَحْبَهٗۙ وَمِنْهُمْ مَن يَّنْتَظِرُ ۖ وَمَا بَدَّلُوْا تَبْدِيْلًا… (QS. Al-Ahzab: 23–24)

Ayat ini menggambarkan bahwa di antara kaum mukmin terdapat orang-orang yang benar dalam janji mereka kepada Allah — sebagian gugur dalam perjuangan, sebagian lainnya menunggu, dan mereka tidak mengubah komitmennya sedikit pun.
7. Menjadi shiddiq berarti menjaga janji dan sumpah kepada Allah SWT sampai terpenuhi sepenuhnya.
8. Kematian adalah momentum penentu apakah seseorang benar dalam sumpahnya termasuk golongan shiddiqin ataukah kadzdzibin (para pendusta).
Karena itu Imam Syahid Hasan Al-Banna rahimahullah mengajarkan doa Rabithah:
 Doa Rabithah (dikutip penuh seperti teks awal)
“Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui bahwa hati-hati ini telah berkumpul atas cinta kepada-Mu, bertemu atas ketaatan kepada-Mu, bersatu dalam dakwah kepada-Mu, dan berjanji setia untuk membela syariat-Mu… (hingga akhir doa).”
Doa ini dianjurkan diamalkan setiap pagi dan sore, agar Allah menjadikan kita termasuk golongan yang benar imannya.

Wallahu a‘lam bish-shawab.
Waktu baca: ~3 menit107 kali dibaca
Alfin Agustiar Pratama

Alfin Agustiar Pratama

Alumni Angkatan 2006

Komentar (0)

Silakan login terlebih dahulu untuk menulis komentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

EMOTINALLY CONNECTED DALAM DAKWAH

Maya Angelou pernah berkata, _“People will forget what you said, people will forget what you did, but people will never forget how you made them feel.”_

Tilawah: Jalan Sunyi yang Menghidupkan Kembali Hati

Tilawah Al-Qur'an adalah jalan pulang bagi hati yang lelah dan jauh dari Allah. Saat seseorang membaca, ayat demi ayat membasuh jiwa -kadang menegur, kadang memeluk, kadang membuka mata. Tilawah bukan sekadar ibadah, tetapi percakapan rahasia antara hamba dan Tuhannya yang perlahan melembutkan hati, menenangkan rumah, dan menghadirkan keberkahan. Semakin sering dibaca, semakin tumbuh rindu untuk kembali membukanya. Al-Qur'an menjadi cahaya penuntun, sahabat di dunia, dan syafaat di akhirat, menghidupkan hati yang ingin kembali pulang kepada Allah.

Langit

Klik untuk membaca artikel lengkap

Aku anak baik

Klik untuk membaca artikel lengkap