Orang-orang yang benar dalam keimanannya merupakan satu dari empat golongan manusia yang diberikan petunjuk oleh Allah SWT untuk meniti jalan yang lurus. Inilah jalan yang selalu dimohon oleh para hamba saleh dalam setiap shalatnya. Jalan ini pula yang ditempuh oleh para nabi, shiddiqin, syuhada, dan shalihin, sebagaimana firman Allah SWT:
وَمَنْ يُّطِعِ اللّٰهَ وَالرَّسُوْلَ فَاُولٰۤىِٕكَ مَعَ الَّذِيْنَ اَنْعَمَ اللّٰهُ عَلَيْهِمْ مِّنَ النَّبِيّٖنَ وَالصِّدِّيْقِيْنَ وَالشُّهَدَاۤءِ وَالصّٰلِحِيْنَ ۚ وَحَسُنَ اُولٰۤىِٕكَ رَفِيْقًا
“Siapa yang menaati Allah dan Rasul (Nabi Muhammad), mereka itulah orang-orang yang (akan dikumpulkan) bersama orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, (yaitu) para nabi, orang-orang yang benar, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.” (QS. An-Nisa: 69)
Allah menempatkan orang-orang yang benar (shiddiqin) setelah para nabi. Ini menunjukkan betapa tingginya kedudukan mereka di sisi Allah SWT. Para shiddiqin memiliki tingkatan spiritual tertinggi setelah kenabian.
Dari ayat ini dapat dipahami beberapa hal:
1. Derajat kenabian adalah yang tertinggi.
Para nabi dan rasul adalah manusia pilihan yang menerima wahyu untuk membimbing umat manusia. Kedudukan mereka unik dan berada pada tingkat tertinggi.
2. Setelah nabi adalah para shiddiqin, yaitu mereka yang sepenuhnya beriman, mengikuti para nabi tanpa keraguan, dan membuktikan kebenaran iman melalui ucapan, perbuatan, dan keteguhan hati.
3. Ini menunjukkan bahwa pencapaian tertinggi bagi manusia biasa (bukan nabi) adalah menjadi seorang yang shiddiq: benar, jujur, dan teguh dalam iman. Hal ini menjadi motivasi bagi umat untuk mencapai tingkat keimanan yang luar biasa.
4. Allah menjanjikan bahwa para shiddiqin akan menjadi teman mulia para nabi di surga.
Ini merupakan kehormatan dan balasan atas ketaatan serta keimanan yang kokoh.
5. Para shiddiqin ditempatkan setelah nabi karena kesempurnaan iman dan ketaatan mereka yang mencerminkan ajaran para utusan Allah secara paling murni.
6. Para sahabat radhiyallahu ‘anhum termasuk golongan shiddiqin.
Keimanan mereka terbukti dalam kehidupan nyata. Mereka membela Rasulullah SAW hingga mengorbankan harta, tenaga, darah, bahkan nyawa.
Sebagai contoh, Hamzah bin Abdul Muthalib—paman Nabi SAW—yang gugur dalam Perang Uhud. Kematian beliau meninggalkan duka mendalam bagi Rasulullah SAW, hingga beliau menangis melihat jasad pamannya. Tentang mereka, Allah menurunkan ayat:
مِنَ الْمُؤْمِنِيْنَ رِجَالٌ صَدَقُوْا مَا عَاهَدُوا اللّٰهَ عَلَيْهِ ۚ فَمِنْهُمْ مَّنْ قَضٰى نَحْبَهٗۙ وَمِنْهُمْ مَن يَّنْتَظِرُ ۖ وَمَا بَدَّلُوْا تَبْدِيْلًا… (QS. Al-Ahzab: 23–24)
Ayat ini menggambarkan bahwa di antara kaum mukmin terdapat orang-orang yang benar dalam janji mereka kepada Allah — sebagian gugur dalam perjuangan, sebagian lainnya menunggu, dan mereka tidak mengubah komitmennya sedikit pun.
7. Menjadi shiddiq berarti menjaga janji dan sumpah kepada Allah SWT sampai terpenuhi sepenuhnya.
8. Kematian adalah momentum penentu apakah seseorang benar dalam sumpahnya termasuk golongan shiddiqin ataukah kadzdzibin (para pendusta).
Karena itu Imam Syahid Hasan Al-Banna rahimahullah mengajarkan doa Rabithah:
Doa Rabithah (dikutip penuh seperti teks awal)
“Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui bahwa hati-hati ini telah berkumpul atas cinta kepada-Mu, bertemu atas ketaatan kepada-Mu, bersatu dalam dakwah kepada-Mu, dan berjanji setia untuk membela syariat-Mu… (hingga akhir doa).”
Doa ini dianjurkan diamalkan setiap pagi dan sore, agar Allah menjadikan kita termasuk golongan yang benar imannya.
Wallahu a‘lam bish-shawab.